Tampilkan postingan dengan label Wajah Pendidikan Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wajah Pendidikan Kita. Tampilkan semua postingan

08 Maret 2010

E-Learning Content for Coorporate

Perkembangan e-learning saat ini tidak hanya dirasakan oleh akademisi yang berkutat di universitas-universitas. E-learning kini semakin luas menyentuh dunia korporasi. Perusahaan kian menyadari keuntungan yang didapat ketika mereka mengaplikasikan e-learning pada training-training mereka.

Biasanya perusahaan kerap meningkatkan kinerja karyawannya dengan mengadakan in-house training. In-house training yang sering diadakan perusahaan menelan biaya yang cukup besar. Sedangkan pelaksanaannya kadang tidak mengena pada sasaran, berhubung peserta in-house training terkadang sangat banyak.
http://cte.dal.ca/inhouse.html

Saat ini perusahaan mulai menyadari, ada cara lain untuk mengatasi berbagai kendala yang dihadapi oleh in-house training. Salah satunya adalah dengan membangun infrastruktur e-learning. Infrastruktur e-learning mulai banyak dikembangkan oleh korporasi di Indonesia. Untuk dukungan infrastruktur yang dibutuhkan bisa melihat pada tulisan "Dukungan Infrastruktur IT Untuk E-Learning Corporate", dengan pertumbuhannya yang kian cepat, makin banyak pula tumbuh perusahaan baru yang mendukung infrastruktur e-learning tersebut.

Majunya e-learning di dunia korporasi makin meluaskan lapangan pekerjaan pada instructional designer, karena pada dasarnya inilah salah satu ladang garapan ilmu Teknologi Pendidikan yang cukup besar. Sayangnya besarnya kesempatan ini tidak didukung oleh kemampuan marketing para lulusan Teknologi Pendidikan itu sendiri. Beberapa kali saya bertemu klien di perusahaan-perusahaan besar masih belum mengenal lulusan Teknologi Pendidikan dengan baik. Mereka lebih mempercayai kemampuan Certified Instructional Designer yang kemampuannya hampir sama dengan lulusan Teknologi Pendidikan UNJ yang katanya berakreditasi "A". Ck..ck..ck.. inilah wajah pendidikan kita yang bisa dibilang belum dipercaya oleh kalangan negeri sendiri.. hff....

26 Februari 2008

The Power of ICT in Education

“Serial Seminar Nasional Kekuatan ICT Dalam Dunia Pendidikan di Indonesia”


TEMA

“THE POWER OF ICT IN EDUCATION”


FORMAT

Pemaparan dari Wakil Pemerintah, Para Pakar dan Praktisi Pendidikan serta dunia usaha Tentang Pemanfaatan ICT Dalam Dunia Pendidikan


WAKTU DAN TEMPAT

HARI/TANGGAL : SELASA, 15 APRIL 2008
WAKTU : Pukul 08.00 s/d 15.30
TEMPAT : Ruang Aula Perpustakaan UNJ

SASARAN KEGIATAN

1. Guru-guru dan dosen di Indonesia
2. Penentu Kebijakan dan Dunia Usaha yang mendukung perkembangan ICT
3. Keluarga besar Civitas Akademika UNJ

PESERTA POTENSIAL

1. Guru-guru di sekolah negeri dan swasta dari SD, SMP,SMA, dan SMK
2. Para Pemerhati dunia pendidikan atau konsultan pendidikan
3. Perusahaan Teknologi Informasi dan Komunikasi
4. Khalayak umum yang tertarik dengan ICT dalam dunia pendidikan
5. Mahasiswa umum
6. Mahasiswa UNJ program S1, S2, dan S3
7. Perwakilan dari Pejabat Depdiknas
8. Perwakilan dari Pejabat Depkominfo


PEMBICARA KEGIATAN SEMINAR NASIONAL ICT

Sesi 1 :
”Pemanfaatan ICT di sekolah dan tantangan yang dihadapi”1. Perwakilan Para Guru di sekolah dalam memanfaatkan ICT
a. SD diwakili oleh SD Global Jaya (Agus Sampurno)
b. SMP diwakili oleh SMP Labschool (Wijaya Kusumah)
c. SMA diwakili oleh SMAN 13 Jakarta Utara (Adriansyah)
d. SMKN 3 Jakarta Pusat (Dedi Dwitagama)
2. DR. Onno Purbo (pakar internet)
3. Dr. Baedlowi, Dirjen PMPTK Depdiknas

Sesi 2
”Implementasi ICT dalam pendidikan; tantangan dan peluang di era globalisasi”1. Dirjen Telematika Depkominfo
2. Prof DR. Yusufhadi Miarso, GURU Besar UNJ
3. Indosat Training Centre
4. Gugus Konten, PT. Telkom
5. Dr. Sylviana Murni (Kadis Pendidikan DKI Jakarta)

Sesi 3 :
Pemanfaatan ICT; Membangun Model Pembelajaran di sekolah
1. DR. Romi Wahono (pakar e-learning dari LIPI)
2. Uwes A. Chairuman, M.Pd. (Pustekkom)
3. Tahir Abdullah, Education Manager, Thosiba Indonesia
4. Dra. Dewi Salma Prawiradilaga, M.Sc. (Pakar Disain pembelajaran UNJ)

Contact Person :
1. Sujai 081584899659
2. Wijaya 08159155515
3. Santi 08158818045
4. Eza 08159400695

Sumber : http://wijayalabs.blogspot.com/2008/02/seminar-nasional-ict.html

e-Learning Award 2008

Event yang digelar sejak tiga tahun lalu ini kini dilaksanakan kembali.. Apa itu e-Learning Award?
mungkin ada beberapa teman yang sudah mengetahui penyelenggaraan event ini. Buat teman-teman yang belum mengetahui, mungkin dapat membaca sekelumit uraian di bawah ini.

e-Learning Award itu ..
e-Learning Award merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Pustekkom Depdiknas untuk menghargai insan-insan yang memanfaatkan ICT dalam pembelajaran. Seperti kita ketahui perkembangan ICT yang semakin maju tidak hanya dirasakan dampaknya oleh bidang-bidang perbankan, bisnis, maupun pemerintahan (sekarang dikenal dengan e-government), saat ini ICT juga mulai rajin menunjang pembelajaran. Selain sebagai sarana menghargai tersebut, acara ini juga dapat dikatakan sebagai pengakuan terhadap pemanfaatan ICT dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Siapa saja yang mendapatkan ..
e-Learning Award diberikan kepada mereka yang telah aktif menggunakan ICT baik mereka yang berupa korporasi, perguruan tinggi, maupun sekolah-sekolah. Anda mungkin telah mengenal sistem e-Learning yang di terapkan oleh beberapa perusahaan swasta, di sini, mereka juga akan diperhitungkan sebagai bagian dari insan ICT yang dihargai. Begitu pula dengan universitas-universitas lainnya yang aktif mengembangkan e-Learning nya. Seperti Universitas Binus, Universitas Terbuka, Universitas Indonesia, maupun universitas-universitas lainnya yang berada di Indonesia. Sekolah juga dalam hal ini memegang peranan yang cukup penting. Cukup banyak sekolah-sekolah saat ini yang mencoba mengembangkan LMS (Learning Management System) bagi siswanya agar dapat ber-e-Learning.

Hanya itu saja .. ?!
Tentu tidak, selain award, penyelenggara juga menggelar Lomba pembuatan software dan hardware terkait penunjang pembelajaran yang memanfaatkan ICT. Lomba ini khusus digelar bagi mereka siswa sekolah yang tertarik dengan ICT.

Apa yang didapatkan dengan Award ini ..
Selain hadiah total ratusan ribu rupiah, dengan Award tentunya pemenang sebagai pengembang akan bangga menjadi bagian dari perubahan bangsa ini.

Yang baru di e-Learning Award 2008 ..
Karena event yang diadakan ini berlangsung tiap tahun, maka selalu ada unsur kebaruan dalam setiap penyelenggaraan tiap tahunnya. Yang baru di tahun 2008 ini antara lain :
1. Terbitnya Buku Panduan Penyelenggaran. Buku ini menjadi sarana sumber hukum pelaksanaan kegiatan bagi penyelenggara. Sedangkan bagi peserta, buku ini menjadi panduan informasi mereka dalam mengikuti ajang ini (Disusun oleh Pustekkom dengan bantuan pendapat dari : rekan-rekan korporasi, rekan-rekan peneliti, rekan-rekan dikmenum, rekan-rekan depag, rekan-rekan pendidik, dan rekan-rekan IT sendiri, saya kebetulan terlibat pula dalam penyusunanya).
2. Ada penambahan kategori di tahun ini. Mengingat banyaknya blog yang muncul belakangan ini, terlebih lagi ketika memantau besarnya pemanfaatan blog tersebut sebagai sarana edukasi, maka tahun ini penyelenggara menyiapkan salah satu kategori baru yaitu kategori Blog Edukatif. Bagi teman-teman yang merasa blognya cukup edukatif, dapat coba mendaftarkan dirinya masing-masing.
3. Telekolaborasi Sekolah. Istilah ini cukup asing terdengar, maklum belum banyak yang memanfaatkan. Award ini diberikan bagi lebih dari satu sekolah yang mengadakan hubungan komunikasi terkait pendidikan menggunakan ICT, khususnya dalam bentuk yang formil. Diharapkan bagi sekolah-sekolah yang telah bekerja sama memanfaatkan ICT menerima pula award ini.

Di mana dan kapan acaranya ..
Acara kan digelar akhir tahun 2008 ini direncanakan bulan Oktober yang akan datang. Tahun lalu acara ini sukses digelas di Shangri La Hotels, untuk tahun ini masih belum ditentukan tempat acaranya.

Well, buat teman-teman yang masih penasaran untuk ikut dan terlibat menjadi bagian acara ini, dapat langsung mengakses informasi melalui elearningaward.net

12 Februari 2008

Pilih Ayam Kampung atau Ayam Negeri ... ??

Perumpamaan di atas saya pakai untuk mengenang pendidikan di Indonesia. Betapa lulusan pendidikan saat ini terdiri dari golongan ayam kampung dan ayam negeri.. Kenapa muncul istilah ayam kampung dan ayam negeri? Buat Anda yang belum tahu perbedaan antara keduanya, saya akan menjelaskannya..

Konon dari dahulu ayam kampung terkenal dengan kegigihannya berusaha mencari makan. Terlepas dari ada atau tidaknya pemelihara, si ayam kampung tetap sering terlihar berkeliaran mencari makan sendiri. Sejak kecil jari-jarinya sudah kebal terlatih menggali tanah untuk mencari cacing sebagai makannya. Sedangkan dagingnya, jangan salah, sekalipun kecil, si ayam kampung selalu bernilai jual tinggi. Selanjutnya mari kita perhatikan kehidupan si ayam negeri. Si ayam negeri biasanya selalu berada manis di kandangnya. Makanan yang diberikan berupa makanan olahan yang bisa dibilang siap saji. Tidak perlu kerja keras untuk menambah daging, dengan beberapa kali suntik saja terkadang beratnya melebihi si ayam kampung. Tapi yaa.. patut kita sayangkan si ayam negeri bertubuh ringkih dan jika dipasarkan, harganya selalu di bawah si ayam kampung.

Mungkin ilustrasi di atar sudah berhasil men-triger Anda mengenai konsep yang saya maksud. Hasil cetakan pendidikan Indonesia secara kuantitas jangan ditanya.. ratusan ribu orang diluluskan tiap tahunnya.. tapi lulusan yang ada ini bak ayam negeri yang nilai jualnya rendah.. Kalau merujuk kebelakang kita akan terkenang dengan pola-pola pendidikan yang pernah dilalui..

--duduk manis di kelas, siap dijelaskan bu atau pak guru, menerima semua yang diberikan (asal disuapi), pulang membawa pr (yang terkadang dikerjakan serupa seperti punya teman), menjelang kelulusan mulai pusing mengatur agar nilai bisa lolos batas minimum, akhirnya cari bimbel buat latihan soal setiap hari (fuih,, this is what I did ), sampai akhirnya lulus jadi sarjana dengan nilai baik--

Rutinitas seperti ayam negeri tersebut menghasilkan lulusan seperti ayam negeri pula --berat, berisi, tapi kualitas kurang-- waduh,,, kalau terkenang hal ini saya jadi malu,, karena mungkin saya juga salah satu ayam negeri..

Untuk menjadi ayam kampung tidak terlalu sulit, ayam kampung memang merupakan bentukan lingkungan, tapi jangan lupa, jiwa seorang ayam kampung selalu berusaha mengeksplore dan mencari sendiri makanan yang harus dia temukan (sebagai kebutuhan pokok). Kalau disejajarkan, pencarian si ayam kampung merupakan proses belajar bagi kita. Ilmu menjadi kebutuhan yang harus ditemukan sendiri. Bukan hasil suapan dari orang lain, bukan pula hasil suntikan instan (seperti latihan soal terus menerus ketika mendekati ujian). Semoga belum terlambat,, karena normalnya kebutuhan ini akan selalu di rasa sampai sebelum masuk liang lahat. Mari, dari saat ini… mulai jadi ayam kampung sejati.. :)

11 Februari 2008

Bimbel oh bimbel...

Well, tulisan kali ini sudah cukup lama saya simpan di dalam benak saya.. walau tidak secara langsung, tapi ada benih-benih yang bisa dijadikan pelajaran dari sini..

Teman saya,, sebutlah bernama Hapsari, untuk memenuhi kebutuhannya sebagai single fighter di Jakarta ini bekerja sebagai pegawai magang di salah satu lembaga penelitian. Karena gaji sebagai pegawai magang kurang memenuhi kebutuhan hidupnya, Hapsari akhirnya bekerja juga sebagai tutor di sebuah lembaga bimbingan belajar atau yang kerap kita sebut dengan 'bimbel'. Lembaga bimbingan tersebut memang tidak sebesar nama-nama bimbel besar, tapi katanya cukup banyak yang menjadi peserta didik (?) di sana. Hapsari sering kali mengeluhkan letihnya dia bekerja di tempat tersebut... Bukan karena jadwalnya yang padat, atau jarak menuju tempat bimbel tersebut, melainkan karena pelayanan yang 'wajib' dia berikan sebagai tutor. Setiap kali bertindak sebagai tutor di kelas, setiap anak siap membawa PR (pekerjaan rumah) dari sekolahan masing-masing untuk diselesaikan di bimbel tersebut. Hapsari memang tidak berkeberatan jika harus mengajarkan bagaimana seharusnya PR tersebut dikerjakan, tapi Hapsari mengeluhkan kenapa setiap kali mengerjakan, si anak yang membawa PR terkadang malah sibuk bermain bersama teman satu bimbelnya, akhirnya PR yang seharusnya dikerjakan oleh si anak, jadi dikerjakan sendiri olehnya. Hapsari pernah sesekali mengeluhkan hal ini kepada pihak yang berwenang di bimbel tersebut. Tapi pihak bimbel malah menyebutkan hal itu sebagai bentuk 'pelayanan' bimbel kepada kostumernya.

Mendengar hal ini hati saya miris, bukan hanya karena melihat Hapsari yang semakin lelah menghadapi anak-anak tersebut, tetapi juga melihat penyelewengan makna belajar oleh bimbel tersebut. Saya akui saya juga salah satu produk bimbingan belajar, waktu itu saya akan masuk perguruan tinggi dan berharap dengan mengikuti bimbel, saya bisa masuk perguruan tinggi negeri yang saya inginkan. Ketika itu saya belum paham benar apa yang dimaksud dengan belajar. Sampai waktu kuliah, saya dijejali dengan berbagai informasi mengenai bentukan belajar yang seharusnya. Menengok ke belakang dan setelah mendengar cerita dari teman saya tersebut, saya kembali memunculkan pertanyaan besar lainnya. Jika bimbel hadir untuk membimbing, lalu di mana peran sekolah? Setelah saya ingat-ingat ketika mengikuti bimbel, saya tidak dapat mencari saat-saat yang bisa dikatakan sebagai 'saat belajar'. Yang saya tahu saat mengikuti bimbel hanya terus menerus mengerjakan soal yang dimungkinkan akan keluar saat ujian. Menyedihkan.... saya kehilangan orientasi belajar yang sebenarnya.

Entah di bagian mana yang salah, yang jelas saya tidak mau hal ini terulang lagi kepada orang-orang di sekitar saya. Saat ini adik saya, Hafprilia akan menghadapi UAN setelah hampir 3 tahun bersekolah di SLTP, dan saya bahagia karena sekolah memunculkan kembali peranannya dalam mempersiapkan siswanya menghadapi ujian. Hafprilia setiap hari minggu diwajibkan datang ke sekolah didampingi oleh gurunya untuk menambah waktu belajarnya mempersiapkan ujian.

Bimbel atau sekolah mungkin pilihan yang dramatis saat menjelang UAN, walaupun saya yakin 70% memilih percaya bimbel untuk menghadapi UAN, tapi saya yakin,, masih ada pemikiran yang terbuka yang percaya belajar adalah sebuah proses yang tidak bisa dilewati hanya dengan berlatih mengerjakan soal-soal saja...

:)