Saat ini saya sedang berada di tengah project pembuatan modul e-learning untuk salah satu perusahaan Multi Finance. Berhasil saya rangkum beberapa garis besar kebutuhan tahapan analisis dan disain produksi konten e-learning.
Pertama, konten material. Saya perlu gambarkan instructional designer (ID) diharapkan mempunyai material atau konten yang baik sebagai bahan baku utama. Kesiapan klien dalam menyusun konten atau materi sangat mutlak diperlukan. Kejelasan tujuan pembelajaran, kedalaman materi, pengaya materi dan materi secara keseluruhan menjadi bahan utama terbaik yang harus didapatkan oleh ID. Alangkah lebih baik lagi jika masing-masing modul sudah disusun oleh ID lainnya yang memahami aspek pedagogis dari pengguna modul.
Kedua, kurikulum berbasis e-learning. Hal ini sepele namun penting bagi pengembangan e-learning disebuah perusahaan maupun instansi pemerintahan. Kurikulum berbasis e-learning ini akan menentukan bentukan e-learning yang diharapkan. Sejauh apa tiap modul e-learning nantinya diproduksi, seperti apa bentukan secara umum dari e-learning. Sayangnya perusahaan-perusahaan jarang melihat ini secara jeli. Sehingga pada prakteknya banyak overlap dan melebarnya konten e-learning itu sendiri.
Ketiga, strategi pembelajaran. Mewahnya ilustrasi animasi dan tingginya interaktivitas pembelajaran di dalam modul e-learning bukanlah sebuah jaminan tujuan pembelajaran tercapai. Terkadang dengan siluet ringan tanpa animasi bertele-tele, tujuan pembelajaran bisa tercapai dengan mudah. Mari renungkan tujuan pembelajaran, ingat dengan sasaran pembelajaran, dan sesuaikan dengan konten.
Terakhir, harapan saya, mungkin seiring berjalannya waktu, institusi atau perusahaan pengguna e-learning akan menyadari betapa euforia ini harus tetap dilekatkan pada aspek-aspek pedagogis dan keseimbangan cita rasa. Amin.
iseng-iseng berbagi juntai cerita. pendidikan. wisata -lepas penat-. kuliner. rumah ku dan kisahnya. cerita lainnya.. tempat berbagi dan dibagi..
30 September 2011
23 Agustus 2011
Menikah menuju Berkah
"Sungguh sebaik-baik kaum perempuan adalah yang paling ringan tuntutan maharnya." (HR. Ibnu Hibban dari Ibnu Abbas)
Hal ini yg selalu saya putar berulang-ulang ketika akan menikah dahulu. Rasulullah pasti memahami betul pentingnya mahar dan dengan bijak menggunakan kata paling ringan. Tulisan setelah ini merupakan pandangan pribadi atas hadist ini.
Mahar adalah sesuatu yang diberikan oleh calon suami kepada perempuan yang akan dinikahi, baik berupa uang maupun barang. Mahar bagi saya merupakan tanda cinta yang saya tuntut dan harus dipenuhi oleh calon suami. Mahar juga merupakan pembuktian keseriusan calon suami untuk memberikan yang terbaik bagi saya. Pembuktian ini menjadi janji akan terpenuhinya kebutuhan lahiriah yang wajib terpenuhi setelah ijab kabul nanti. Selain sebagai pembuktian kesanggupan calon suami, mahar bagi calon suami dapat menjadi cerminan kebutuhan calon istri setelah menikah nanti. Memang bukan menjadi patokan kebutuhan pasti, tapi calon suami dapat melihat pandangan dari wanita yang akan dinikahinya terkait hal materi. Seberapa sesuai kebutuhan istrinya nanti dengan kesanggupan suami menafkahi. Dengan mahar, calon istri dapat membuktikan kesanggupan suami, dan suami dapat menakar kebutuhan istri.
Poin penting kedua adalah kata "paling ringan". Tidak ada takaran terbaik selain materi dan kebendaan dalam mengukur kebutuhan lahiriah seseorang. Karena materi dan kebendaan ini bersifat relatif, maka tidak ada juga standarnya. Mahal bagi si miskin namun murah bagi si kaya. Oleh sebab itu kata "paling ringan" menjadi penengah dengan asumsi tidak memberatkan atau menyusahkan. Kebendaan yang ingin dimiliki calon istri adalah benda yang tidak menyusahkan bagi calon suami.
Rangkaian acara akad dan walimatul-'urus merupakan kegiatan yang tidak bisa dipisahkan. "Sesederhana apapun pernikahan, harus mengadakan walimahan" (HR. Thabrani dan Ahmad). Ketika para sahabat Rasulullah menikah, banyak cerita-cerita unik dan menyentuh terkait mahar. Pernikahan-pernikahan yang dilaksanakan pada saat itu sebenar-benarnya pernikahan islami yang tidak berlebih-lebihan. Pelaksanaan akad nikah sebagai acara utama adalah sebenar-benarnya acara utama, pelaksanaan walimatul-'urus sebenar-benarnya pula ajang silaturahim dan pengumuman bagi sanak saudara serta kerabat untuk menghindari fitnah dikemudian hari. Rasulullah mencontohkan menyembelih seekor kambing sebagai jamuan bagi para sanak saudara dan kerabat yang diundang. Namun dalam kondisi lain, ada pula riwayat yang menceritakan Rasulullah dan pernikahannya dengan sajian korma, keju, dan samin.
Walimatul-'urus diadakan dengan harapan mengumpulkan sanak saudara dan kerabat. Agar mendoakan dan bersilaturahim. Pelaksanaannya biasanya diadakan oleh pihak wanita, dan dibiayai oleh kedua belah pihak. Pembiayaan acara ini dari pihak calon suami merupakan pemberian keikhlasan atau kerelaan didasarkan atas kesanggupan calon suami dari segi materi. Ketika pembiayaan untuk acara ini menjadi tuntutan dengan keharusan tertentu dari pihak calon istri, maka menjadi bersinggungan dengan esensi dari mahar. Esensi mahar tidak lagi didasarkan atas kewajiban materi yang diberikan saat ijab qabul. Tapi menjadi aset materi terselubung yang tak tercatat di buku nikah. Sayangnya, kewajiban pembiayaan dengan nominal tertentu terkadang menyusahkan calon suami. Jika merunut tulisan-tulisan di atas, kita perlu mengingat kembali esensi dari mahar dan seruan Rasulullah dengan kata "paling ringan".
Siapa yang tak ingin hidup bahagia setelah menikah. Namun siapa pula yang tak ingin hari bahagia menjadi indah. Namun keindahan selayaknya juga menuju keberkahan. Karena itulah yang dicita-citakan. Toh indah merupakan hal relatif bagi mata yang memandang. Gedung mewah belum tentu indah bagi para milyuner yang memiliki kapal pesiar dan biasa berpesta di dalamnya. Tenda biru sederhana pun belum tentu buruk dihadapan para fakir yang biasa tinggal digubuk. Semua kebendaan dan keindahan adalah relatif. Tapi keberkahan adalah pasti. Dimana kehidupan setelah hari pernikahan adalah tolak ukurnya. Dimana ketenangan jiwa bersama pasangan adalah ciri-cirinya.
“Barakallahu laka wa baraka ‘alaikuma….”
Pernikahan merupakan perjalanan panjang yang diawali dengan niat baik dan pelaksanaan yang baik. Harapannya hanyalah mencapai keberkahan. "Sungguh pernikahan yang paling besar berkahnya adalah yang mudah dan sederhana pembiayaannya."
Hal ini yg selalu saya putar berulang-ulang ketika akan menikah dahulu. Rasulullah pasti memahami betul pentingnya mahar dan dengan bijak menggunakan kata paling ringan. Tulisan setelah ini merupakan pandangan pribadi atas hadist ini.
Mahar adalah sesuatu yang diberikan oleh calon suami kepada perempuan yang akan dinikahi, baik berupa uang maupun barang. Mahar bagi saya merupakan tanda cinta yang saya tuntut dan harus dipenuhi oleh calon suami. Mahar juga merupakan pembuktian keseriusan calon suami untuk memberikan yang terbaik bagi saya. Pembuktian ini menjadi janji akan terpenuhinya kebutuhan lahiriah yang wajib terpenuhi setelah ijab kabul nanti. Selain sebagai pembuktian kesanggupan calon suami, mahar bagi calon suami dapat menjadi cerminan kebutuhan calon istri setelah menikah nanti. Memang bukan menjadi patokan kebutuhan pasti, tapi calon suami dapat melihat pandangan dari wanita yang akan dinikahinya terkait hal materi. Seberapa sesuai kebutuhan istrinya nanti dengan kesanggupan suami menafkahi. Dengan mahar, calon istri dapat membuktikan kesanggupan suami, dan suami dapat menakar kebutuhan istri.
Poin penting kedua adalah kata "paling ringan". Tidak ada takaran terbaik selain materi dan kebendaan dalam mengukur kebutuhan lahiriah seseorang. Karena materi dan kebendaan ini bersifat relatif, maka tidak ada juga standarnya. Mahal bagi si miskin namun murah bagi si kaya. Oleh sebab itu kata "paling ringan" menjadi penengah dengan asumsi tidak memberatkan atau menyusahkan. Kebendaan yang ingin dimiliki calon istri adalah benda yang tidak menyusahkan bagi calon suami.
Rangkaian acara akad dan walimatul-'urus merupakan kegiatan yang tidak bisa dipisahkan. "Sesederhana apapun pernikahan, harus mengadakan walimahan" (HR. Thabrani dan Ahmad). Ketika para sahabat Rasulullah menikah, banyak cerita-cerita unik dan menyentuh terkait mahar. Pernikahan-pernikahan yang dilaksanakan pada saat itu sebenar-benarnya pernikahan islami yang tidak berlebih-lebihan. Pelaksanaan akad nikah sebagai acara utama adalah sebenar-benarnya acara utama, pelaksanaan walimatul-'urus sebenar-benarnya pula ajang silaturahim dan pengumuman bagi sanak saudara serta kerabat untuk menghindari fitnah dikemudian hari. Rasulullah mencontohkan menyembelih seekor kambing sebagai jamuan bagi para sanak saudara dan kerabat yang diundang. Namun dalam kondisi lain, ada pula riwayat yang menceritakan Rasulullah dan pernikahannya dengan sajian korma, keju, dan samin.
Walimatul-'urus diadakan dengan harapan mengumpulkan sanak saudara dan kerabat. Agar mendoakan dan bersilaturahim. Pelaksanaannya biasanya diadakan oleh pihak wanita, dan dibiayai oleh kedua belah pihak. Pembiayaan acara ini dari pihak calon suami merupakan pemberian keikhlasan atau kerelaan didasarkan atas kesanggupan calon suami dari segi materi. Ketika pembiayaan untuk acara ini menjadi tuntutan dengan keharusan tertentu dari pihak calon istri, maka menjadi bersinggungan dengan esensi dari mahar. Esensi mahar tidak lagi didasarkan atas kewajiban materi yang diberikan saat ijab qabul. Tapi menjadi aset materi terselubung yang tak tercatat di buku nikah. Sayangnya, kewajiban pembiayaan dengan nominal tertentu terkadang menyusahkan calon suami. Jika merunut tulisan-tulisan di atas, kita perlu mengingat kembali esensi dari mahar dan seruan Rasulullah dengan kata "paling ringan".
Siapa yang tak ingin hidup bahagia setelah menikah. Namun siapa pula yang tak ingin hari bahagia menjadi indah. Namun keindahan selayaknya juga menuju keberkahan. Karena itulah yang dicita-citakan. Toh indah merupakan hal relatif bagi mata yang memandang. Gedung mewah belum tentu indah bagi para milyuner yang memiliki kapal pesiar dan biasa berpesta di dalamnya. Tenda biru sederhana pun belum tentu buruk dihadapan para fakir yang biasa tinggal digubuk. Semua kebendaan dan keindahan adalah relatif. Tapi keberkahan adalah pasti. Dimana kehidupan setelah hari pernikahan adalah tolak ukurnya. Dimana ketenangan jiwa bersama pasangan adalah ciri-cirinya.
“Barakallahu laka wa baraka ‘alaikuma….”
Pernikahan merupakan perjalanan panjang yang diawali dengan niat baik dan pelaksanaan yang baik. Harapannya hanyalah mencapai keberkahan. "Sungguh pernikahan yang paling besar berkahnya adalah yang mudah dan sederhana pembiayaannya."
-Wallahu a'lam bishawab.-
28 Juli 2011
Last Man Standing

Last Man Standing adalah serial televisi di BBC Knowledge yang meliput kompetisi beberapa pria atletis asal Inggris dan Amerika. Tiap serialnya berisi episode-episode para kontestan yang memperebutkan posisi nomor satu dari olahraga unik yang mereka lakoni. Pada serial kedua, Last Man Standing episode ke delapan, para atlet ini menghadapi olahraga yang sama sekali baru mereka lihat dan dengar. Buffalo Racing, Karapan Kerbau di Sumbawa Indonesia. Untuk gambaran jelas episode ini bisa cek di sini. Di website milik BBC itu Anda akan mendapatkan informasi jelas terkait episode tersebut. Di postingan kali ini, saya hanya akan munculkan beberapa hal unik yang saya suka dari episode itu.
1. Sumbawa tempat yang indah, tapi terbengkalai
Daerah pariwisata di Indonesia jumlahnya sangat banyak. Tapi sedikit yang baru diketahui dan dikunjungi oleh wisatawan. Ketika menonton episode ini, saya melihat keindahan Sumbawa dan betapa budaya karapan Kerbau ini, luar biasa menarik. Atletis dan mistis. Acaranya digelar di salah satu sawah basah yang siap dibajak. Penontonnya meriah dan tumpah ruah. Para atlet benar-benar harus mengeluarkan kemampuan atletisnya mengendalikan kerbau yang mana baru mereka kenali sebagai hewan tunggangan balap. Di saat bersamaan mistis, karena ada unsur-unsur magis terkait boneka yang menjadi sasaran balap.
Boneka ini ditancapkan beberapa ratus meter dari garis start, berdiri tegak setelah dimantrai oleh dukun kampung. Dukun kampung memantrai boneka ini agar tidak pernah rubuh atau didekati karapan kerbau. Saya bukan pecinta sihir, klenik, atau magis. Tapi bagi saya ini adalah budaya dan budaya ini membuat saya terpana.
2. Penamaan kerbau tunggangan
Saat pertama atlet tiba di desa penyelenggara Karapan Kerbau, mereka harus mengundi kerbau mana ditunggangi oleh siapa. Dan selama persiapan lomba ini, kerbau itu adalah teman mereka. Seketika suasana menjadi riuh karena keberuntungan mendapatkan kerbau terbaik dan jagoan lomba diujikan saat ini. Sepintas lalu bagian ini saya hiraukan, tapi saya kembali terpana, karena ternyata mereka menyebutkan nama kerbau dengan nama-nama artis atau orang populer. Seperti salah satu kerbau yang dijagokan bernama 'Diah KDI'. Kembali saya terpana dan terpingkal.
3. Keakraban menentukan kemenanganPara atlet mempersiapkan lomba dengan berlatih menunggangi kerbau. Tujuan mereka adalah merubuhkan boneka magis yang saya ceritakan sebelumnya. Mereka didampingi oleh seorang pelatih karapan. Para pelatih memberikan arahan cara menunggangi, cara mempercepat lari kerbau, dan cara memperlakukan kerbau. Para atlet terheran-heran mengetahui betapa cara memperlakukan hewan tunggangan ini adalah sesuatu yang spesial bagi para pelatih. Kerbau tunggangan harus diberi makan secara rutin, harus diajak ngobrol agar lebih akrab, para pelatih meyakini kerbau ini memiliki jiwa yang akan membantu atlet memenangi perlombaan. Dan yang tak boleh terlupa, kerbau ini harus mandi dua kali sehari. Iya dua kali, saat para atlet biasanya hanya mandi satu kali sehari. Ini adalah percakapan antara salah satu peserta dengan pelatihnya. Bertempat di pemandian kerbau, setelah selesai berlatih pertama kali.

Memandikan Kerbau
Atlet A : Bagaimana membuat kerbau ini lebih jinak? Saya kesulitan mengendarainya tadi.
Pertanyaan atlet ini membuat saya merubah posisi duduk menonton lebih serius. Karena saya baru saja melihat kerbau yang sedang dimandikannya, kerbau tunggangannya ini luar biasa liar. Saya yakin jawabannya akan melibatkan unsur-unsur teknis dan sangat penting. Lalu pelatih menjawab.
Pelatih : Oh, gampang. Kamu lepas kolor yang lagi kamu pakai, lalu kamu usap ke muka kerbau itu. Nanti dia jadi lebih nurut sama kamu. Dan, saya terkikik tak terhingga. Kalau tidak salah ingat, kerbau dan atlet yang menanyakan hal ini adalah satu-satunya atlet yang berhasil merobohkan boneka magis. Wallahualam.
Overall, episode ini menarik, seperti banyak episode acara BBC lain yang melibatkan latar Indonesia dan daerah eksotisnya, episode ini membuat saya bangga berbangsa Indonesia karena budayanya.
Langganan:
Postingan (Atom)
