Susu formula yang mengandung
bakteri enterobacter sakazakii yang saat ini sedang ramai dibicarakan mendorong saya untuk post sebuah tulisan hari ini. Nama bakteri tersebut muncul dan menjadi populer seiring dengan kepopuleran nama sebuah perguruan tinggi besar, IPB. Miris sekali mendengarnya, berhubung susu formula kerap digunakan oleh para ibu untuk memenuhi kebutuhan asupan bayi mereka saat ASI tidak berproduksi dengan baik. Tentunya berita ini menyebabkan beberapa anak berhenti mendapatkan asupan gizi dari sebuah susu, karena ibu mereka takut bakteri yang dimaksud terkandung di dalam susu formula bayi yang mereka pilih. Pasti gizi anak-anak Indonesia selama beberapa hari kebelakang dan entah sampai kapan menjadi kurang.
Sebenarnya yang membuat saya lebih sedih adalah ketika mengetahui reaksi dari pihak BPOM yang kurang sigap menanggapi hal ini. Beriring juga reaksi menkes yang meragukan hasil penelitian. Republik ini jadi semakin terkenal dengan ketidak-koordinasian-nya. Sebagai masyarakat awam kita tentunya mengharapkan sebuah informasi yang jelas dan menenangkan terkait dengan masalah kesehatan khususnya. Hal ini tentunya dapat tercipta dengan koordinasi yang baik antara IPB (sebagai penguji) dan BPOM (sebagai pihak yang berwenang). Bukan itu yang masyarakat dapatkan, tetapi malah adu
statement yang sibuk membela diri masing-masing. Saya selaku masyarakat awam tentu melihatnya sebagai dagelan yang tidak memberikan solusi apapun.
Setelah terkatung-katung beberapa hari, BPOM bersuara dan mengungkapkan akan menyelidiki kandungan bakteri tersebut pada seluruh produk susu formula bayi untuk menenangkan masyarakat. Well, dengan
statement ini BPOM menguatkan keberfungsiannya hanya sebagai badan yang bergerak saat masyarakat resah.
Statement ini juga menyiratkan 'kalau sewaktu-waktu bertemu dengan kasus serupa, masyarakat resah saja dulu, baru kami akan meneliti'.. Saya tidak menyalahkan BPOM sepenuhnya tapi memang yang terjadi seperti itu. Susu formula yang dites secara sampling itu juga tentunya menandakan bahwa seluruh makanan yang kita konsumsi tersebut belum tentu semuanya diperiksa dan diteliti kandungannya oleh BPOM. Menyedihkan...
IPB sebagai institusi yang mengeluarkan 'pernyataan tanggung' (berhubung tidak langsung menginformasikan merk susu formula tersebut) juga sungguh mengherankan saya. Terus terang sampai saat ini saya belum pernah merasakan hasil penelitian IPB yang berguna bagi masyarakat luas lainnya. Sedangkan untuk hasil penelitian yang membuat khawatir masyarakat seperti ini dikeluarkan secara umum dan terbuka. Pertanyaan besar... (?). Saya yakin hasil penelitian seperti ini memang perlu diketahui masyarakat luas. Tapi yang saya pahami jika memang menyadari bahwa yang berhak mengeluarkan pengumuman nama produknya adalah BPOM, mengapa IPB tidak secara langsung melayangkan surat kepada BPOM terlebih dahulu sebelum mengeluarkan pernyataan yang terkesan tanggung-tanggung ini? Jika IPB bermaksud baik, tentunya tidak akan ada keresahan masyarakat seperti ini.
Sudah saatnya kita belajar.. IPB dapat belajar bekerja sama. Dan Depkes khususnya BPOM dapat belajar lebih sigap menanggapi masukan.